35 KISAH 1 HATI



Masih sangat kuingat, dulu betapa matahari bersinar begitu terik saat aku datang di tempat ini. Wisma tercinta kita. Baru beberapa gelintir anak-anak penghuni ujung kamar B. dan salah seorang penghuni kamar A5 dari Purwodadi. Aku juga masih begitu ingat pertemuan pertamaku dengan teman sekamarku, begitu asing. Jangankan teman sekamar, setiap sudut dan sisi wisma ini benar-benar tak kukenali. Asing. Tak pernah sekalipun aku akan lupa betapa panas wisma ini, betapa menusuk bau cat decholith yang baru saja usai dikerjakan, bising ulah tukang, kasur busa panas yang masih terbingkis apik bersanding bantal “anissa”nya, serta betapa mengkilapnya coklat cat kayu pintu kamar kita. Ya, ini wisma baru, wisma tempat kita bersama-sama memulai merantau, jauh dari orang tua menjadi laskar penuntut ilmu.
Malam ini aku mencoba menelusuri kembali harddisk otakku, tak susah untuk kutemukan memori tentang kalian. Semua masih apik kuingat disini. Di otakku. Aku rasa kalian tidak lupa ketika kita saling mencoba menyapa dengan seraut atau bahkan segumpal kecanggungan satu sama lain. Awal pembicaraan kita. Pasti kalian juga masih ingat ketika kita jalan-jalan ke Gang Pisang membayar Kost?. Lupakah kalian jika itu adalah kali pertama kita saling menyebut dengan nama panggilan kesukaan, itu juga kala pertama salah seorang dari kalian meminta dipanggil “Njenam”. Itu serasa baru kemarin, baru saja kemarin.
Detik, menit, jam, hari, minggu, bahkan hitungan bulan kita coba lewati, dengan beragam karakter-karakter unik kalian. Kawan, memang aku bukan orang yang pandai menilai sifat seseorang, bukan juga pandai menerka perasaan kalian satu per satu. Tapi aku selalu ingin kalian menerima kehadiranku, menyambut sapaanku dengan ramahnya hati kalian. Betapa aku sadar, kalianlah keluargaku disini. Disinilah aku temukan kalian, teman seperantauan yang mampu memahami satu sama lain, yang tak pernah sekalipun merendahkan ekonomi satu sama lain.
Sempat aku atau bahkan kalian merasa sebal ketika harus berbagi kamar mandi saat jam kuliah sama-sama memburu, sebal karena harus berbagi tempat jemuran, sebal ketika dapur atau kulkas kotor, dan tak jarang dari kalian menghela nafas jengkel ketika washtaffel mampet. Tapi di dalam sini. Di hatiku. Aku sangat berharap jasa seorang teman yang selalu rajin menyapu tiap pagi berbuah pahala keikhlasan. Segala masalah, kekacauan dan kejengkelan yang terjadi pasti akan menjadi satu hal yang kalian rindui nanti. Begitu juga euphoria ujian para pejuang Bidikmisi munkin tak akan sefanatik ketika bersama kalian. Tak akan seberkobar dulu semangat ujian genarasi kita. Mungkin juga akan jarang kutemui selasar kamar yang terhalang juluran kaki kalian yang tengah berjuang untuk ujian esok pagi.
Kini rambutan Ace Pak Riyanto telah usai berbuah. Mungkin tahun depan tak dapat lagi kita nikmati rambutan bersama di depan televisi. Dan mungkin ramadhan yang akan datang, tak dapat lagi kita nikmati bersama sedap gurihnya masakan Bu Yanti sambil menyimak acara TV. Pasti nanti juga akan kalian temui citarasa “bakso mini” yang lain. Kawan, bukan selama ini aku tak memperhatikan kalian, bukan juga aku tak mengamati. Justru dari kalianlah selama ini aku belajar, dari kalian aku mulai paham betapa banyak dan uniknya karakter orang, bagaimana seseorang butuh dipahami dengan cara yang berbeda dan dengan orang yang berbeda. Karena kalianlah orang-orang dengan semangat dan tekad luar biasa yang pernah aku temui.
Namun sekarang kusaksikan satu persatu dari kalian meninggalkan tempat ini. Wisma pertama ini. Betapa aku harus melihat keluargaku satu persatu mulai menghilang. Meninggalkan kami yang kini dapat dihitung dengan jari. Kawan aku hanya ingin kalian ingat “ langkah-langkah yang kalian tapaki kedepan mungkin akan lebih banyak dari apa yang sudah kalian tapaki, namun jagan pernah lupakan langkah dibelakang kalian dimana langkah itulah yang mengantar kesuksesan”. Begitu juga seorang teman, mungkin akan kalian temukan lebih banyak teman esok hari, tp jangan pernah lupakan kami, teman-teman yang berjuang dan mendukung langkahmu menuju kesuksesan. Aku adalah bagian dari mozaik hidup kalian, begitupun kalian adalah bagian dari mozaik hidupku. Tak akan menjadi sebuah gambar sempurna jika ada bagian yang tak terpasang, sekalipun hanya satu mozaik.
Di lembar kedua ini akan lebih banyak kutulis kata terimakasih, maafkan aku jika banyak yang tidak berkenan. Kuucapkan terimakasih banyak untuk kalian, terimakasih untuk Septa yang begitu mengayomi kami di di masa pemerintahannya, terimakasih untuk Gita atas tularan semangatnya, terimakasih untuk Jariyah atas kemampuan tenses dan translatenya yang sangat membantu, terimakasih untuk Novi yang sudah dua kali memberikan sport jantung akibat ledakan water heater, but it was the moment never be forgeted, terimakasih untuk Murni ekspresi kocaknya, it was so funny, terimakasih untuk Mbak Selvi yang membuat kita selalu iri dengan kredibilitas kamarnya, terimakasih untuk Mbak Janna yang selalu membuat kita merasa tidak cocok jadi yang lebih muda, terimakasih untuk Frida yang belakangan ini aku tahu suaramu menghibur dan tetap istiqomah qiyamul lailnya, terimakasih untuk Ela yang kadang tidak selalu sejalan ketika ngobrol denganku, terimakasih untuk Aeni yang sudah menyuguhi tari cacing kepanasan, you was so energic, terimakasih untuk Nur atas sumbangan air galonnya, terimakasih untuk Mbak Rani yang selalu mencontohkan ketenangan, terimakasih untuk Puji dari kamu aku sadar kalu manusia itu butuh tidur, tetap jaga kesehatan dan jadwal tidur ya Puji, terimakasih untuk Endang berkat kamu aku tidak lagi golput kemarin, terimakasih untuk Ika, nama kamu bagus tapi aku sedikit susah menghafalnya, terimakasih untuk Nadia yang sudah mengajari retweet di twitter, terimakasih untuk Dede, mungkin kalau aku menjadi lurah Kost akan aku galakkan dana untuk membayarmu, tetaplah rajin menyapu, terimakasih untuk Eva yang selalu menjadi alasan kost untuk ramai, terimakasih untuk Murifa nama kamu sarat akan dunia permesinan, terimakasih untuk Yunifa atas ilmu movie maker dan pinjaman flashdisknya, terimakasih untuk Mia atas informasi-informasi penting yang tidak pernah terlambat kamu bagikan, terimakasih untuk Mbak Ana you’re the best bisa bertahan dengan beribu-ribu serangan kentut yang aku lancarkan, terimakasih untuk Maela yang sudah setia menjadi fansku, terimakasih untuk Rekna yang sering menyapaku ketika berangkat kuliah, terimakasih untuk Mbak Sus di kamarmulah tempat beta meminta nasi dan air panas, terimakasih untuk Rahay yang tak pernah absen dengan oleh-olehnya, terimakasih untuk Hutri yang telah mengajarkan betapa sejarah itu penting, terimakasih untuk Uzi atas ajakan adventurenya yang selalu menggiurkan, terimakasih untuk Mustika kemahiran ilmu kimiamu selalu membantu, terimakasih untuk Mbak Lina ternyata kamu temen ngobrol yang asik, terimakasih untuk Annisa yang selalu setia mengisi pulsa, terimakasih untuk Nova semangat rocker, terimakasih untuk Aida kamu salah satu yang tergolong cantik di wisma ini, and the last but not least terimakasih untuk Ulya yang mengajarkan aku ketegaran dan kekonyolan, kamu cantik. Kalau saja Pak Riyanto punya akun facebook, mungkin akan ku jabarkan disini the most big thanks untuk beliau yang super duper baik.
Maafkan aku yang selalu mengganggu kalian, maaf aku selalu membuat kalian sebal, maaf kalau kalian terganggu dengan suara gitarku, maaf kalau suaraku terlalu keras dan berisik, maaf kalau aku terlalu kasar, maaf kalau bicaraku terlalu ketus, maafkan aku yang selama ini selalu merepotkan. Kawanku, Selamat beradaptasi dengan lingkungan yang baru untuk kalian yang meninggalkan wisma ini. Aku dan kami yang masih tersisa akan sangat merindukan kalian. Sempatkanlah datang berkunjung disela-sela waktu kuliah kalian dan disenggang waktu seabrek jadwal kegiatan aktivis kampus. Wisma inilah tempat yang tempat untuk kalian bernostalgia mencharge semangat seperti mahasiswa baru, tempat ini tempat kalian belajar berjuang. Salam Sukses Selalu.

Dinginnya Malam Semarang,
11 Juli 2014 (11:11 pm)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ALAT PEMINDAH MATERIAL

SIFAT-SIFAT KIMIA BAHAN BAKAR CAIR

MIMPI ITU MIMPI