AKHIR SATU CINTA
Sembab di mataku tak kunjung memulih. Entah sampai kapan aku akan menangis, dan terus menangis. Entah kepada alam ataukah kepada Tuhan aku mencoba untuk mengadu. Menguraikan dengan jelas apa yang aku rasakan. Lewat telisik semilir angin yang membelai anak rambutku aku mencoba berbisik, tentang gelisah hati. Kesepian. Tentang rindu yang sampai kapanpun tak akan pernah terbalaskan sedikitpun rasa. Lewat luasnya langit yang Tuhan hamparkan untukku aku ingin Tuhan merasakan hatiku yang mengiba. Tepat dua tahun yang lalu aku berada di tempat yang sama. Disini. Di selasar masjid megah di kotaku. Tapi bukan sendiri seperti saat ini. Dulu, tepat saat aku gelisah melihat alas kakiku entah dimana. Seseorang menghampiriku,menyapaku kaku menawarkan alas kakinya untukku. Kuterima bantuannya kala itu. Seseorang yang begitu tulus, rela menelanjangkan kakinya untukku. Aku tak mengenalnya sama sekali. Namun begitulah kisah awal pertemuan kami. Hari-hari berikutnya aku sema...