AKHIR SATU CINTA


Sembab di mataku tak kunjung memulih. Entah sampai kapan aku akan menangis, dan terus menangis. Entah kepada alam ataukah kepada Tuhan aku mencoba untuk mengadu. Menguraikan  dengan jelas apa yang aku rasakan. Lewat telisik semilir angin yang membelai anak rambutku aku mencoba berbisik, tentang gelisah hati. Kesepian. Tentang rindu yang sampai kapanpun tak akan pernah terbalaskan sedikitpun rasa. Lewat luasnya langit yang Tuhan hamparkan untukku aku ingin  Tuhan merasakan hatiku yang mengiba.
Tepat dua tahun yang lalu aku berada di tempat yang sama. Disini. Di selasar masjid megah di kotaku. Tapi bukan sendiri seperti saat ini. Dulu, tepat saat aku gelisah melihat alas kakiku entah dimana. Seseorang menghampiriku,menyapaku kaku  menawarkan alas kakinya untukku. Kuterima bantuannya kala itu. Seseorang yang begitu tulus, rela menelanjangkan kakinya untukku. Aku tak mengenalnya sama sekali. Namun begitulah kisah awal pertemuan kami.
Hari-hari berikutnya aku semakin sering tanpa sengaja bertemu dengannya di tempat yang sama juga. Tempat yang sekarang aku duduki. Aku selalu betah berlama-lama duduk disini selepas dhuhur. Menikmati sejuknya angin. Melegakan diri dari segala aktifitasku di kantor. Jarang sekali aku alpa untuk senyuman yang dia berikan. Meneduhkan. Perkenalan kami berujung pada kedekatan. Dia adalah seorang wartawan di sebuah redaksi surat kabar. Laki-laki yang begitu luas berwawasan, lugas, dan berwibawa.
Begitu sempit waktu yang aku rasakan, namun kenangan demi kenangan telah mampu Ia rajut dalam kehidupanku. Keteduhan matanya, indah senyumannya. Aku tahu dia sama sekali berbeda dengan yang pernah ada. Di dalam sini. Di hatiku. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi hubungan kami. Menemui orangtuaku. Memintaku menemani hidupnya untuk selamanya. Memang begitu sederhana kisah cinta kami.
Pertengahan  November 2004, janji suci terikrarkan. Menyatukan dua langkah kaki yang berbeda. Meleburkan segala keegoisan asa. Airmata kebahagiaan tak urung berlinang kala itu. Haru. Suka cita. Berdua bersama-sama kami membangun awal dari segalanya. Mencoba menurunkan biduk rumah tangga ke moncong dermaga. Belajar bersama mendayungnya.
Aku ingat, dan masih sangat ingat, Desember 2004. Bahagia melingkupi kami, Ia menjadi wartawan kepercayaan di kantornya. Aku pun masih dapat mengigat senyum kebahagiaan di bibirnya untukku. Meletikkan rasa bangga padanya dalam diriku. Sejak saat itulah, saat yang mengantarkan dirinya dan tugas pertamanya ke ujung Sumatera. Tergambar jelas kala itu, kucium pipinya penuh kasih. Ku benamkan ujung tangannya di wajahku, dengan takzim kucium tangannya. Gelisah ataukah gusar hatiku kala itu aku tak tahu. Aku menangis dan Ia memelukku erat. Berjanji membawakan oleh-oleh untukku saat pulang nanti. Berjanji untuk tidak telat makan disana. Namun bukan itu sebenarnya yang membuat hatiku bergejolak.
Tanpa harus kujelaskan semua orang di ujung duniapun tahu, kapan Sang Laut begitu dahsyat singgah di daratan Sumatera kala itu. Ya, 26 desember 2004. Ia tanpa kata merebut cintaku yang baru saja kumiliki. Baru saja aku belajar bagaimana cara mengarungi samudera dengan satu kapal bernahkoda dua. Baru saja. Tapi Tuhan terlalu cepat mengambil kembali apa yang ia pinjamakan padaku. Belahan jiwaku tak kan pernah kembali.

Komentar

  1. Best eCOGRA Sportsbook Review & Welcome Bonus 2021 - CA
    Looking for an eCOGRA 메리트카지노 3만쿠폰 Sportsbook Bonus? 벳 365 At this 더킹카지노 슬롯 eCOGRA Sportsbook review, 카지노 we're talking about a 메이저 토토 사이트 variety of ECCOGRA sportsbook promotions.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ALAT PEMINDAH MATERIAL

SIFAT-SIFAT KIMIA BAHAN BAKAR CAIR

MIMPI ITU MIMPI