MIMPI ITU MIMPI




Senja ini aku berdiri di tepian Surabaya, memandang kuyu suramadu yang tegak berdiri kokoh memeluk lautan. Burung-burung terbang rendah di atas laut mengepak-kepakkan sayap mereka. Bebas. Semua berlalu- lalang tak teratur dengan kesibukkannya. Rusuh, serusuh hatiku. Mengenang mimpi-mimpi yang bahkan masih begitu segar untuk kucium, bau segar kegagalan.
Semua seakan tak peduli, kemana kulangkahkan kaki setelah ini. Setelah semua yang kuimpikan gagal. Aku tahu bahwa waktu tak mungkin berulang, bahkan untuk satu kalipun. Aku juga tahu bahwa semua yang tercapai itu diimpikan dahulu. Namun ketika impian itu gagal tercapai, itulah mimpi yang sesungguhnya. Mimpi tetaplah mimpi.
Baru dua kali matahari terbit, sejak aku diputuskan gagal masuk ke universitas itu. Masih juga terngiang jelas kata-kata Cak Pardi berdengung-dengung ketika Ia bertanya seleksiku kemarin. Kulihat binar dimatanya redup seketika mendengar penuturanku. Cak Pardi tersenyum, tetap Ia ucapkan kata bangga padaku. Namun aku tahu, senyumnya adalah senyum kegetiran. Sementara orang diluar sana pastilah bertanya akan nasib sang juara ini. Entah harus kususun kata apa untuk menjawab pertanyaan orang-orang di sekelilingku. Mungkin ketika kuberikan jawaban, terjawablah tanya mereka. Namun sungguh sebenarnya aku ingin menutup rasa malu yang sebelumnya tak pernah kuduga akan kurengkuh. Akulah juara di kelas sejak sekolah dasar. Hingga sekarangpun aku tak pernah absen menduduki peringkat satu. Betapa sekali aku malu. Harus kutaruh dimana keangkuhanku selama ini.
 Aku sadar, aku yang terlalu percaya diri bahwa apa yang kuimpikan pastilah akan kudapatkan. Terlebih lagi aku telah mengukur-ukur kemampuan diriku, dan akupun sangat percaya bahwa aku mampu. Namun sekarang kenyataanlah yang bersabda bahwa sekarang pintu gerbang impianku tak dapat kulihat, apalagi kusentuh.
Memang tak sepatutnya kugantungkan mimpi erat-erat. Memang tak semestinya aku membuat Cak Pardi menjadi begitu yakin aku akan diterima. Pada akhirnya aku yang membuat Cak pardi malu dan kecewa. Aku tahu perasaanya, tahu sekali walaupun tanpa harus ia ungkapkan padaku. Akulah kebanggaan baginya. Betapa Ia berusaha menutupi segalanya. Betapa sulitnya Ia memaniskan diriku dengan alasan-alasan yang Ia buat untuk menjawab orang lain. Aku tahu sesungguhnya ia juga amat sulit menutupi semuanya. Kebanggaanya kini telah layu. Musnah.
Lama aku termenung, mencoba melupakan semua keputusasaan dalam diriku. Tapi semakin aku ingin melupakan perasaan gagal itu, malah pikirku semakin mengais nya. Kusalahkan juga Tuhan yang begitu teganya Ia menamparku keras dengan takdir macam ini. Ingkar. Mengapa ia ingkar akan janjinya. Tak pernah kurangnya aku berusaha. Tak pernah juga aku alpa berdoa di kejauahan malam. Hanya untuk satu permintaan. Satu harapan.
Kuhela nafas dalam-dalam berharap kudapatkan kelegaan. Mendapat sedikit kelapangan di dada untuk menghimpun semangat yang baru. Ingin rasanya aku kembali menemukan sinar kepercayaan diri yang dulu pernah gemilang dalam diriku. Mencoba membangun lagi menara asa miliku seperti yang dulu, meski membuat pondasinya saja aku telah lupa. Mencoba meyakinkan lagi. Menguatkan diriku. Benar-benar tak kuasa aku melihat antusias Cak Pardi terbayar oleh kekecewaan. Dia pastilah bangga jika seandainya aku bisa duduk di kursi Auditorium kampus itu. Namun sekarang. Mustahil. Maafkan aku Cak , maafkan aku cak Pardi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ALAT PEMINDAH MATERIAL

SIFAT-SIFAT KIMIA BAHAN BAKAR CAIR